LAPORAN
PRAKTIKUM
KIMIA
KAYU
DISUSUN OLEH :
ANDRE
ADMAWIJAYA
(G1011171201)
(G1011171201)
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2O18
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Kadar air
adalah banyaknya air atau presentase air yang dikandung oleh sepotong kayu
terhadap berat kering kayu tersebut. Kemampuan kayu untuk menghisap atau
mengeluarkan zat atau cairan tergantung pada suhu dan kelembaban udara
sekeliling. Standar yang ditentukan untuk menentukan kadar air dengan
mengeringkan serbuk kayu dalam oven pada suhu 100-105°C hingga kayu mencapai
berat yang tetap.Pada kondisi ini kandungan air masih 1%.Sifat fisika kayu
dipengaruhi oleh perubahan kadar air kayu. Kadar air kayu rata – rata adalah 15
%. Kemampuan kayu untuk menghisap atau mengeluarkan air tegantung pada suhu dan
kelembapan udara disekelilingnya. Sehingga banyaknya air dalam kayu selalu
berubah-rubah menurut keadaan udara atau atmosfer disekelilingnya.
Kayu memiliki kandungan air lebih banyak pada kayu muda atau hijau yang akan mengalami penyusutan yang besar dibandingkan dengan kayu tua. Air terdapat pada seluruh dinding sel dan dinding kayu jika seluruh sel kosong dan dinding sel jenuh air maka kondisi ini disebut titik jenuh serat, biasanya kadar air berada antara 23-27%karna sifat hidrokopis semua kayu berusaha untuk mencapai kadar air yang seimbang.
Ekstraktif adalah bahan- bahan organik non polimer yang dapat dipisahkan melalui pelarutan dalam pelarut – pelarut nertal seperti eter, benzene, alkohol, aseton, air ataupun uap air. Bahan- bahan ekstraktif itu diantaranya adalah hidrakarbon, lemak, asam lemak , asam resin dan tannin .
Lignin adalah bagian yang terdapat dalam lamela tengah dan dinding sel, lignin merupakan komponen kimia nomer 2 yang ada dalam kayu dan pulp.Lignin akan sangat mempengaruhi sifat- sifat fisik serat pulp. Kadar pulp yang tinggi menyebabkan serat kaku. Pemasakan yang kurang sempurna pada serat akan masih banyak mengandung lignin. Kayu mengandung zat-zat yang berupa lemak atau minyak, kadarnya tergantung pada jenis kayu yang digunakan.
α-Selulosa adalah komponen kimia utama yang terdapat dalam serat-serat pulp, penting dalam industri pulp dan kertas dan industri selulosa lainnya. Mutu hasil produksi sangat ditentukan oleh kandungan β selulosa yang ada dalam bahan baku atau pulp. Adanya hemiselulosa dalam pulp ( bahan baku ) akan memperbaiki mutu ikatan atar serat dalam lembaran pulp dan kertas. Pada produksi rayon hemiselulosa akan mengurangi kekuatan serat.
1.2 Tujuan praktikum
Untuk menentukan kadar air/
persen pada percobaan penentuan kadar air, ekstraktif kayu, lignin,
holoselulosa dan α selulosa.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
PENENTUAN KADAR AIR
( SNI 08 – 7070 – 2005 ). Kadar Air
adalah perbandingan berat air yang terdapat dalam contoh dengan berat contoh
kadar air semula yang dinyatakan dalam persen dan diukur pada kondisi standar.
(
Rowell, Roger, 1984 ). Kadar air dalam kayu adalah penentuan pengukuran berat
setelah pengeringan contoh pada suhu 105 oC.Lebih sedikit spesisifik
dari pada lainnya. Presentase semua komponen kimia dihitung dengan dasar
terbebas dari kandungan air atau kadar air.
2.2Komposisi Kimia Kayu
Pada umumnya komposisi kimia kayu
terdiri dari selulosa, hemiselulosa, lignin, zat ekstraktif, dan sedikit
mengandung mineral.Selulosa, hemiselulosa, dan lignin merupakan komponen utama
yang membentuk dinding sel, sedangkan zat ekstraktif dan mineral terdapat
diluar dinding sel.
2.3
ZAT EKSTRAKTIF KAYU
Ekstraktif
adalah bahan- bahan organik non polimer yang dapat dipisahkan melalui pelarutan
dalam pelarut – pelarut nertal seperti eter, benzene, alkohol, aseton, air
ataupun uap air. Bahan- bahan ekstraktif itu diantaranya adalah
hidrakarbon, lemak, asam lemak , asam resin dan tannin .
Pada
proses penggilingan ekstraksi akan mengumpul dan membentuk suspensi koloidal,
partikel ini akan menyumbat wire mesin kertas sehingga dapat menyebabkan noda
dan lubang-lubang pada kertas yang dihasilkan.
A.
Ekstraktif kayu pada alcohol benzene
Zat
ekstraktif terdiri dari bahan-bahan organik non polimer yang dapat dipisahkan
melalui pelarut yang netral seperti ater, benzena, alkohol, aseton, air dan uap
air (Brown, 1952).
Larutan
alkali (NaOH) akan mudah melarutkan zat ekstrakitf yang letaknya jauh di dalam
batang. Hal ini disebabkan larutan basa yang heterogen mampu menyusup lebih
dalam ke jaringan kayu, 8 sehingga terjadi peristiwa pengembangan (swelling) dan
bahan yang tedapat dalam jaringan kayu akan mudah dilarutkan. NaOH juga mampu
melarutkan sebagian besar hemiselulosa khususnya rantai cabangnya baik dari
pentosa, heksosa maupun asam organik (Browning, 1967).A
Alkoholmerupakan pelarut yang dapat melarutkan senyawa seperti tanin, lemak, lilin, zat pektik dan senyawa lainnya. Alkohol merupakan pelarut umum yang digunakan untuk ekstraksi (Batubara, 2006).
Alkoholmerupakan pelarut yang dapat melarutkan senyawa seperti tanin, lemak, lilin, zat pektik dan senyawa lainnya. Alkohol merupakan pelarut umum yang digunakan untuk ekstraksi (Batubara, 2006).
B.
Ekstraktif kayu air panas
Kelarutandalam air panas menunjukkan
seberapa banyak komponen bahan baku yang dapat larut dalam air panas.(SNI
01-1305-1990)
C. Ekstraktif
kayu air dingin
Kelarutandalam
air dingin menunjukkan seberapa banyak komponen bahan baku yang dapat larut
dalam air dingin. (SNI 01-1305-1990)
2.4
Lignin
Lignin adalah
sustu polimer kompleks dengan berat molekul tinggi dan terdiri dari satuan
fenil propane. Lignin terdapat di lamella tengah dan didnding sel yang
berfungsi sebagai perekat antar serat.(11)lignin mempunyai
gaya kimia dan absorpsi kimia dan gas yang kuat dan mempunyai luas permukaan ±
180 m2/gram serta tidak memiliki titik lebur, tetapi mudah
dilunakkan pada temperature 70–1000C. lignin dapat dilarutkan oleh
hidrolisa asam pada proses sulfite, alkali panas dengan proses soda dan proses
sulfat, serta klorinasi, oksidasi dan hidrolisa selama proses pemutihan pulp (
Bleaching ).
Pulp akan mempunyai sifat fisik yang
baik apabila kandungan lignin dapat dikurangi karena sifat lignin yang kaku dan
rapuh. Lignin dapat dapat mempengaruhi dalam hal pembentukan ikatan antar serat
dan dapat menurunkan derajat putih, tetapi sebenarnya sifat lignin sendiri
berwarna putih, karena pada proses pemasakan lignin bereaksi dengan senyawa
kimia lain membentuk ikatan kromoform sehingga menghasilkan warna. Oleh karena
itu sifat lignin yang kaku dan rapuh menyebabkan sifat kekuatan kertas yang
menurun.Sifat senyawa ini sangat stabil, sulit dipisahkan dan mempunyai bentuk
yang bermacam-macam.
2.5.
Holoselulosa
Berdasarkan SNI 14 – 1303 – 1989 .
Holoselulosa merupakan bagian serat yang bebas sari dan lignin, terdiri
dari selulosa dan hemiselulosa. Tergantung dari jenis kayunya , berwarna putih
sampai kekuning-kuningan. Holoselulosa adalah bagian dari serat yang bebas dari
sari lignin. Holoselulosa ini merupakan fraksi karbohidrat total dalam kayu
sebagai komponen non structural penyusun dinding sel yang terdiri atas selulosa
dan hemiselulosa, biasanya warna holosellulosa tergantung pada jenis kayu dari
berwarna putih hingga kekuning-kuningan. Kadar holosellusa dalam kayu
merupakan jumlah dari senyawa
polisakarida dalam kayu (selulosa dan hemiselulosa).
2.6 alpha sellulosa
Selulosa a (Alpha Cellulose)
adalah selulosa berantai panjang, tidak larut dalam larutan NaOH 17,5% atau
larutan basa kuat dengan DP (derajat polimerisasi) 600-1500. Selulosa a dipakai
sebagai penduga dan atau penentu tingkat kemurnian selulosa. Alpha selulosa yang mempunyai
kualitas yang paling tinggi (mumi). Material yang mengandung alpha selulosa α
> 92 % memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan baku utama pembuatan
propelan dan atau bahan peledak sedangka selulosa kualitas dibawahnya digunakan
sebagai bahan baku pada industrikertas dan industry sandang/kain (serat rayon)
BAB III
METODE
PRAKTIKUM
3.1 PENENTUAN KADAR AIR
3.1.1 Waktu dan tempat
Hari, tanggal: senin, 19 Maret
2018
Waktu : Pukul 07:30-selesai WIB
Tempat :
Laboratorium Teknologi Hasil Hutan (THH) Pertanian Uiversitas Tanjungpura
3.1.2 Alat dan bahan
1.
Aluminium
foil
2.
Oven
3.
Desikator
4.
Timbangan
analitik
5.
Penjepit
logam
6.
Serbuk
kayu akasia yang sudah dianalisis
3.1.3 Langkah kerja
1.
Buat
wadah aluminium foil, untuk isian serbuk kayu isi 2 gr.
2.
Beri
label atau kode untuk memudakan pengambilan data saat penimbangan.
3.
Wadahnya
dioven selama 10-15 menit.
4.
Kemudian
dinginkan wadah masukkan kedalam desikator selama 15-20 menit.
5.
Setelah
itu timbang wadah menggunakan timbangan analitik untuk mendapatkan berat wadah
kering oven.
6.
Timbang
sebuk 2gr ± 0,1 gr menggunakan wadah yang sudah diketahui beratnya.
7.
Kemudian
masukkan kedalam oven selama ±24 jam.
8.
Kemudian
timbang sampai mendapatkan berat konstan atau kering tanur.
3.2. KADAR EKSTRAKTIF
KAYU AIR PANAS
3.2.1 Waktu dan
Tempat
Hari,
tanggal : senin, 19 Maret 2018
Waktu : Pukul 07:30-selesai WIB
Tempat : Laboratorium Teknologi Hasil
Hutan (THH) Pertanian Uiversitas Tanjungpura
3.2.3 Alat dan Bahan
Alat:
1.
Erlenmeyer
250 ml dan 500 ml
2.
Baker
glass 500 ml dan 100 ml
3.
Gelas
ukur 250 ml
4.
Corong
5.
Batang
pengaduk
6.
Timbangan
analitik
7.
Oven
8.
Desikator
9.
Penangas
air/ water bath
Bahan:
1.
Kertas
saring
2.
Aquades
3.
Serbuk
kayu Akasia
3.2.3.Langkah kerja
1.
Timbang
serbuk 2 gr ± 0,1 gr
2.
Masukkan
serbuk kayu tersebut kedalam erlenmeyer 250 ml
3.
Tambahkan
100 ml aquades
4.
Tutup
menggunakan aluminium foil
5.
Masukkan
kedalam penangas air selama 3 jam
6.
Setelah
itu, angkat Erlenmeyer dari penagas air
7.
Letakkan
kertas saring diatas kepala Erlenmeyer menggunaka corong.
8.
Lakukan
penyaringan dengan kertas saring yang sudah dioven dan sudah diketahui beratnya
9.
Tuang
perlahan tunggu hingga serbuk benar-benar kering, jika masih bersisa bilas
dengan 100 ml aquades.
10. Kemudian lipat bagian kertas
saring lalu dioven selama 24 jam
11. Timbang serbuk hingga
menghasilkan berat kering tanur.
3.3KADAR EKSTRAKTIF
KAYU AIR DINGIN
3.3.1 Waktu dan Tempat
Hari, tanggal : senin, 19 Maret 2018
Waktu : Pukul 07:30-selesai WIB
Tempat :
Laboratorium Teknologi Hasil Hutan (THH) Pertanian Uiversitas Tanjungpura
3.3.2
Alat
dan Bahan
Alat:
1.
Erlenmeyer
250 ml dan 500 ml
2.
Baker
glass 500 ml dan 100 ml
3.
Gelas
ukur 250 ml
4.
Corong
5.
Batang
pengaduk
6.
Timbangan
analitik
7.
Oven
8.
Desikator
9.
Penangas
air/ water bath
Bahan:
1.
Kertas
saring
2.
Aquades
3.
Serbuk
kayu Akasia
3.3.3Langkah
kerja
1.
Timbang
serbuk 2 gr ± 0,1 gr
2.
Masukkan
serbuk kayu tersebut kedalam erlenmeyer 250 ml
3.
Tambahkan
100 ml aquades
4.
Tutup
menggunakan aluminium foil
5.
Masukkan
kedalam penangas air selama 3 jam
6.
Setelah
itu, angkat Erlenmeyer dari penagas air
7.
Letakkan
kertas saring diatas kepala Erlenmeyer menggunaka corong.
8.
Lakukan
penyaringan dengan kertas saring yang sudah dioven dan sudah diketahui beratnya
9.
Tuang
perlahan tunggu hingga serbuk benar-benar kering, jika masih bersisa bilas
dengan 100 ml aquades.
10. Kemudian lipat bagian kertas
saring lalu dioven selama 24 jam
11. Timbang serbuk hingga
menghasilkan berat kering tanur.
3.4
KADAR
EKSTRAKTIF KAYU ALKOHOL BENZEN
3.4.1 Waktu dan
Tempat
Hari, tanggal : senin, 19 Maret 2018
Waktu : Pukul 07:30-selesai WIB
Tempat :
Laboratorium Teknologi Hasil Hutan (THH) Pertanian Uiversitas Tanjungpura
3.4.2
Alat
dan Bahan
Alat:
1.
Erlenmeyer
250 ml dan 500 ml
2.
Baker
glass 500 ml dan 100 ml
3.
Gelas
ukur 250 ml
4.
Corong
5.
Batang
pengaduk
6.
Timbangan
analitik
7.
Oven
8.
Desikator
9.
Penangas
air/ water bath
Bahan:
1.
Kertas
saring
2.
Aquades
3. Serbuk kayu Akasia
3.3.3Langkah kerja
1.
Timbang
serbuk 2 gr ± 0,1 gr
2.
Masukkan
serbuk kayu tersebut kedalam erlenmeyer 250 ml
3.
Tambahkan
100 ml aquades
4.
Tutup
menggunakan aluminium foil
5.
Masukkan
kedalam penangas air selama 3 jam
6.
Setelah
itu, angkat Erlenmeyer dari penagas air
7.
Letakkan
kertas saring diatas kepala Erlenmeyer menggunaka corong.
8.
Lakukan
penyaringan dengan kertas saring yang sudah dioven dan sudah diketahui beratnya
9.
Tuang
perlahan tunggu hingga serbuk benar-benar kering, jika masih bersisa bilas
dengan 100 ml aquades.
10. Kemudian lipat bagian kertas
saring lalu dioven selama 24 jam
11. Timbang serbuk hingga
menghasilkan berat kering tanur.
3.5 PENENTUAN KADAR LIGNIN
3.5.1 Waktu dan Tempat
Hari,
tanggal: senin,7 Mei 2018
Waktu : Pukul 07:30-selesai WIB
Tempat : Laboratorium Teknologi Hasil Hutan
(THH) Pertanian Uiversitas Tanjungpura
3.5.2 Alat dan Bahan
1.
Aquades
2.
Erlemeyer
100 ml
3.
Penangas
es
4.
Pipet
tetes
5.
Aluminium
foil
6.
Penangas
air panas
7.
Soklet,
alat pengisap
8.
Cawan
saring
9.
Oven
10. Timbangan analitik
11. Serbuk Akasia
3.5.3 Langkah kerja
1.
Timbanglah
serbuk kayu 1 gr ± 0,1 gr dan lakukan ekstraksi alcohol benzene menurut
percobaan B1.
2.
Serbuk
yang sudah diekstraksi itu dipindahkan kedalam gelas piala ukuran 1000 ml dan
diencerkan dengan 400 ml air panas diatas penangas air (100oC)
selama 3 jam.
3.
Kemudian
serbuk disaring dengan cawan saring. Serbuk dibiarkan kering udara, kemudian
dipindahkan kedalam gelas piala kecil ditutup dengan gelas arloji.
4.
Dengan
perlahan-lahan sambil diaduk ditambahkan 15 ml H2SO472% yang
dingin (12-150C).
5.
Serbuk
kayu harus tercampur dengan sempurna dengan mengaduk selama paling sedikit 1
menit. Diamkan selama 2 jam dengan sering diaduk.
6.
Suhu
dijaga tetap antara 18-20 oC (dinginkan gelas piala bagian luar
untuk mencapai suhu ini) serbuk dicuci kedalam piala Erlenmeyer dari 1 liter
dan diencerkan hingga mencapai konsentrasi asam 3% dengan menambahkan 560 ml
aqudes.
7.
Didihkan
dibawah pendingin tegak selama 4 jam, diusahakan agar oven tetap dengan
menambah air panas sewaktu-waktu.
8.
Setelah
bahan-bahan yang tidak larut dibiarkan mengendap, disaring dengan cawan saring,
cuci dengan air panas hingga bebas dari asam.
9.
Keringkan
dalam tanur pada suhu 105 0C hingga beratnya konstan., dinginkan
lalu timbang.
3.6 PENENTUAN KADAR HOLOSELLULOSA
3.6.1 Waktu dan Tempat
Hari,
tanggal: senin,7 Mei 2018
Waktu : Pukul 07:30-selesai WIB
Tempat : Laboratorium Teknologi Hasil Hutan
(THH) Pertanian Uiversitas Tanjungpura
3.6.2 Alat dan bahan
1.
Aquades
2.
Erlemeyer
100 ml
3.
Penangas
es
4.
Aluminium
foil
5.
Penangas
air panas
6.
Soklet,
alat pengisap
7.
Cawan
saring
8.
Oven
9.
Timbangan
analitik
10. Serbuk Akasia
11. Asam asetat
12. NaOH
13. NaClO
3.6.3 Langkah kerja
1.
Timbanglah
0,70 gram (± 0,50 gram) serbuk kayu kering udara yang bebas ekstraktif dalam botol erlenmeyer.
2.
Masukkan
10 ml larutan A dan secara hati-hati masukkan 1 ml larutan B dengan pipet.
3.
Tutuplah
botol dengan tutup yang rapat. Larutan A=60 ml asam asetat glacial dan 20 gram
NaOH perliter aquades. Larutan B=200 gr NaClO2perliter aquades.
4.
Masukkan
botol itu dalam penangas air yang suhunya diatur kira-kira 700C ± 20C.
goyangkan botol itu tiap 30 menit.
5.
Sesudah
itu, 10 menit, 15 menit, 20 menit tambahkan pada masing- masing waktu itu 1 ml
larutan B.
6.
Segera
goyang-goyangkan botol itu setiap kali sesudah memasukkan larutan B itu.
Sesudah 15 menit, masukkan Erlenmeyer dalam penangas es dan masukkan 15 ml
aquades es kedalam botol itu. Masukkan botol itu seluruhnya kedalam saring yang
sudah ditimbang.
7.
Cucilah
isi botol itu dengan 100 ml asam asetat 1% agar sisa-sisa yang masih ada dapat
dipindahkan kedalam cawan saring.
8.
Isaplah
cawan saring itu kemudian cuci dengan 2-5 ml aseton yang dibiarkan menetes
keluar karena beratnya, kemudian isaplah lagi selama 3 menit.
9.
Biarkan holosellulosa itu seimbang dengan
udara kamar selama minimum 4 hari.
10. Timbanglah cawan saring itu, kemudian
keringkan dalam tanur untuk menentukan kadar airnya.
11. Hitunglah berat kering tanur
holosellulosa itu dan nyatakan dalam persen berat kayu kering tanur.
12. Sample jangan dibuang, simpanlah
untuk penetuan kadar alpha sellulosa.
3.7 PENENTUAN KADAR ALPHA
SELLULOSA
3.7.1 Waktu dan tempat
Hari,
tanggal: senin, 14 Mei 2018
Waktu : Pukul 07:30-selesai WIB
Tempat : Laboratorium Teknologi Hasil Hutan
(THH) Pertanian Uiversitas Tanjungpura
3.7.2 Alat dan bahan
1.
Gelas
arloji
2.
Cawan
saring
3.
Pipet
tetes
4.
Soklet/
alat pengisap
5.
Aquades
6.
Larutan
NaOH 17,5%
7.
Asam
asetat
8.
Larutan
aseton
9.
Oven
10. Penangas air
3.7.3
langkah
kerja
1.
alpha
sellulosa ditentukan dengan tidak memindahkan holosellulosa dalam percobaan 3.
Tambahkan NaOH 17,5% dalam cawan saring dengan pipet. Segera letakkan cawan
saring itu dalam gelas arloji yang yang berisi air sehingga terendam ± 1 cm.
2.
lepaskan
atau meserasikan holosellulosa selama 1 menit dalam gelas pengudak agar basah
seluruhnya.
3.
Sesudah
5 menit, tambahkan lagi 3 ml larutan NaOH 17,5 % dan aduk lagi selama 1
cuci;]menit. Kemudian diamkan selama 15 menit.
4.
Tambahkan
6ml aquades, kemudian keuarkan cawan saring dengan 60 ml aquades
5.
Hentikan
pengisapan dan tambahkan 10 ml larutan asam asetat 10% aduklah dan kemudian
isaplah sampai kering dan cucilah dengan 60 ml aquades
6.
Akhirnya
cucilah dengan 10 ml aseton, keringkan dalam tanur dan timbanglah.
7.
Hitunglah
berat alpha sellulosa sebagai persen dari berat kayu kering tanur.
BAB
V
PENUTUP
5.1
KESIMPULAN
Bagian
terpenting dari analisa komponen kimia kayu adalah kadar air kayu. Kadar air
sangat menentukan dalam perhitungan kadar dari masing-masing komponen kimia. KA
( kadar air) berfungsi sebagai dasar perhitungan berat bahan kayu yang akan
dipakai dalam proses pemasakan dan penambahan air dalam proses pengeringan.
Selain itu KA juga berfungsi untuk menentukan harga yang dipakai dalam
penjualan pulp, maka umumnya berdasarkan berat kadar kering pulp.
Jadi
kesimpulan pada praktikum kimia kayu ini mulai dari persen kadar air, penentua
ekstraktif kayu (alcohol benzene, kadar air panas, kadar air dingin), kadar
lignin, kadar holoselulosa dan α selulosa. Berdasarkan hasil praktikum kali ini
didapat bahwa penentuan kadar persen dan kadar ekstraktifnya dilakukan dengan
cara penimbangan yang dilakukan secara berulang hingga mendapatkan hasil yang
konstan dengan perlakuan yang sesuai dengan
prosedur praktikum. Pada setiap praktikum ini suhu, kelembaban dan sirkulasi
udara.
Kadar
selulosa, hemiselulosa, dan α selulosa sangat penting untuk diketahui karena
sangat berperan penting pada proses selanjutnya dan kualitas kukatan pulp yanga
akan dihasilkan. Kadar yang banyak akan menambah yieled / rendemen, menambahkan
kekuatan dan kualitas pada bubur kertas dan kekuatan fisik kertas saat
digunakan dalam pembuatan kertas.
5.2 SARAN
1.
Dalam
praktikum diharapkan berhati-hati agar tidak terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan.
2.
Kurangi
bermain-main karena banyak larutan kimia yang membahayakan.
3.
Gunakan
alat dengan semestinya
4.
Diharapkan
agar ketika praktikum dilakukan dengan teliti dan catat hasilnya dengan akurat.
5.
Saran
untuk asdos agar selalu mendampingi praktikan dan kelompok jangan digabung
menjadi kelompok besar karena hal ini membuat praktikum tidak focus dan serius.
6.
Kemudian
selanjutnya agar laporan sebaiknya dikumpulkan per-pertemuan agar lebih mudah
dalam pengumpulan dan waktunya efektif.
DAFTAR PUSTAKA
